Minggu, 04 Juni 2017

,

Tentang Luka

Memang cukup sulit untuk kita mencoba melupakan seseorang yang pernah berarti dalam kehidupan kita, termasuk seseorang yang dengan sangat berartinya turut menorehkan luka. Logikanya sih semakin dalam dan banyak luka yang ia torehkan, akan semakin mudah kita untuk melupakan. Yoi! Logikanya seperti itu, namun faktanya? Masih banyak dari kita yang tidak mampu melupakan, bahkan masih menganggap seseorang itu sungguh sangat berarti (mungkin ini terdengar berlebihan, namun faktanya seperti itu). Mungkin lebih tepatnya berarti atas lukanya itu, mungkin juga ia adalah orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan kita (mungkin). Bahkan hal ini membuat kita tanpa sengaja menjauhkan atau menutup diri dari seseorang yang baru datang atau memang benar - benar mencintai kita, hanya saja kita tidak pernah tahu hal itu karena lebih memilih menutup diri dan asyik sendiri. Padahal, hal ini tidak menutup kemungkinan jika kita membiarkan seseorang yang baru itu datang untuk mengobati luka yang kita rasakan. Hanya sekedar membiarkan, bukan berarti menerima. Ambil positifnya.



Perihal luka, terkadang membuat kita bersi keras untuk menjadikan hal ini sebagai senjata untuk melupakan. Namun kenyataanya, tanpa kita sadari, senjata ini telah masuk ke dalam ingatan lebih dalam dan mendalam (yeph).

"Karena saat hati ini belum sepenuhnya sembuh dari luka, menerima seseorang itu sebenarnya belum pantas, hanya akan melukai dia. Dan ada baiknya untuk menyelesaikan yang lalu - lalu, kemudian menerima yang baru. Bener gak?"

Ada beberapa yang melupakan dengan cara menghapus semua memory kenangan yang dimiliki (termasuk foto, dokumen, dan file - file lainnya). Langkah yang tepat, namun tidak untuk menghapus pertemanan. Mungkin kebanyakan orang berfikir, dengan melakukan hal ini (menghapus hubungan pertemanan di dunia maya dan dunia nyata, mungkin dunia lain juga*) adalah langkah yang tepat, tapi kenyataannya lambat laun kita justru akan ditumbuhi rasa ingin tahu. Penasaran dengan kabarnya, perubahan hidupnya, dan lainnya (ntahlah). Jika sudah seperti ini, apakah melakukan hal ini akan berhasil?

Ada juga yang memilih melupakan dengan cara bego yang gw anggap ini beneran bego, yaitu dengan cara menyerang. Yeph, menyerang! Menyerang seperti apa?  Dalam hal ini, mungkin banyak dari kalian (mungkin juga gw) akan berfikir dengan menyerang, mengumbar kejelekan dia, melukai dia, dan apapun yang membuat dia terluka, akan membuat kita dapat melupakan. Salah! Cara ini justru akan membuat kita keras mengingatnya (mikirin balas dendam yang syariah mungkin, haha* (canda2)). Hal ini tidak akan berhasil! Hanya akan merugikan diri sendiri, percayalah!

Semakin keras kita untuk melupakan, semakit lekat pula dia dalam ingatan. Jangan buang - buang waktu untuk melupakan dia, terlalu sayang hidup kita jika dihabiskan dan hanya diisi dengan usaha melupakan seseorang yang sebenarnya tak layak di ingatan.

"Berusaha melupakan hanya akan mencemari kedamaian dalam hidup dan merugikan hari - hari kita, itu hanya akan menjadi sia -sia."

Jadi, melupakan bukan hal yang tepat sih menurut gw. Simpelnya kita hanya harus iklas dan menerima, yeph!

Sekedar tips dari gw, dikutip dari pengalaman pribadi dan pengalaman sahabat gw.

Kita gak harus atau gak perlu melupakan, cukup menerima (iklaskan).
Menerima keadaan yang terkadang memang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, dan menerima kalau hidup itu harus terus berjalan. Seiring waktu, kita akan terbiasa dengan hal ini.
Jangan menjadikan luka sebagai senjata, yang harus kita lakukan hanyalah mengobati luka itu bagaimanapun caranya, tanpa mengaitkannya dengan dia (berlibur bareng sahabat atau keluarga misalnya, happy with your passion misalnya). Karena hal ini akan menjadi bumerang yang akan membunuh kita suatu saat nanti.

Tetap berteman.
Hal ini jarang banget terjadi, dari pacar jadi sahabat, bener gak? Gw sendiri ngalamin hal ini, ini adalah salah satu keegoisan manusia (gw sendiri gak bisa pungkiri hal ini). Dengan tetap berteman, kita tidak perlu memiliki rasa ingin tahu tentangnya. Dengan tetap berteman juga, lambat laun luka ini akan menghilang seiring berjalannya waktu. Walaupun hal ini "mungkin" akan memakan waktu, ingat! Slow, but sure aja.

Tidak perlu menyerang.
Ingat dampak negatifnya, akan menjadi bumerang suatu saat nanti. Biarkan saja. Ingat, Tuhan itu maha adil. Jangan kotori diri dengan hal yang tidak memberi keuntungan seperti itu. Karena luka tidak akan sembuh hanya dengan menyerang.

Memaafkan.
Semua orang tahu, memaafkan adalah kunci adanya kedamaian dalam hidup. Walaupun hati masih terasa sakit, namun apabila kita iklas memaafkan, hidup kita akan terasa lebih damai.

Bersyukur.
Kita wajib mensyukuri hal ini, kebayang gak kalo kita sudah tidak di berikan rasa luka atau rasa - rasa lainnya oleh Tuhan (dalam artian, kita sudah tidak tinggal di dunia)? Hayoo? Setidaknya dari hal ini kita bisa belajar, dan lebih bijak dalam menyikapi suatu hal, termasuk luka.

"Dengan menerima, kehidupan kita akan terasa lebih mudah. Percayalah!"

Ini hanya sedikit coretan malam gw, karena gw jarang dan bahkan gak pernah posting artikel. Semoga kedepannya bisa posting tutorial atau artikel ringan lainnya, dan lebih bermanfaat dari sebelumnya. Terima kasih sudah mampir dan membaca artikel disini, dan mohon maaf bila ada kata yang menyinggung atau ada kata yang tidak enak atau tidak layak untuk dibaca. Bila ada kritik, saran, masukan, atau pertanyaan, kalian bisa tulis di kolom komentar atau direct ke twitter gw di @_anesena.

include.mantan="false"

2 komentar:

  1. bang :D

    aq kemarin marah besar di wall pacarku ada cwek ngetag kata" galau (misal : minta kepekaan km aja susah apa lagi dapetin kamu) nah dari sana aku emosi sama doi dan si doi buat status : cweek?? dan ada yg komen dy jawab buat d jadikan pacar! spa yg gg kecewa,segitu lama'a aku nunggu kabar'a,aku sebnr'a gg marah itu uneg" aku keluarkan ke dy dan cm bilang iyah sayang.. ya dh aq cm read aja pesan dy

    mungkin beda umur beda pemikiran jga :(

    BalasHapus